
Bagaimana berhubungan dengan orang Amerika?
Bangsa amerika adalah bangsa yang paling mudah diajak berhubungan, sifat mereka to the point, dan keinginan mereka jelas yaitu mencari keuntungan, mereka melakukannya dengan bekerja keras, menggunakan kecepatan, kesempatan, kekuatan semuanya digunakan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.
How to relate to Americans? The American is the nation’s most easy to relate, the nature of them to the point, and obviously that is their desire for profit, they do it by working hard, using speed, chance, all the power used to achieve the goals they want .
Bangsa Eropa utara adalah bangsa yang dapat berhubungan sukses dengan mereka, mereka adalah orang yang suka berterus terang, maka merekalah yang banyak mengambil manfaat dari berbisnis dengan bangsa amerika. Dan mereka kurang menyukai cara tatakrama orang Latin dan orang Asia yang berliku-liku.
Northern European nation is a nation that can be linked successfully with them, they are people who like to come clean, then they are a lot of benefit from doing business with the American nation. And they are less like the way manners Latins and Asians are devious.
Bagaimana menangani orang inggris?
Inggri adalah inggris raya, maksudnya terdapat beberapa bagian negara dan wilayah inggris, seperti halnya inggris selatan yang notabene makmur dan terdidik maka berbicara dengan mereka haruslah menekankan pembicaraan yang terdidikan beradab.
How to deal with the English?English is an English highway, meaning that there are some parts of the country and English region, as well as the south England that in fact prosperous and educated then talk to them must be emphasized that educated civilized conversation.
Apabila berurusan dengan orang inggris utara, skotlandia, dan weles yang mempunyai sifat lebih keras kepala, maka pembicaraan lebih baik dibuat sungguh-sungguh, langsung dan tidak bertele-tele.
When dealing with the northern English, Scottish, and weles who have more stubborn nature, the conversation is better made earnest, direct and straightforward.
Dalam pertemuan orang inggris biasa menggunakan nama depan, bersifat formal 1-3 kali pertemuan, seterusnya dapat menjadi santai dan lebih banyak membicarakan (seakan lebih memperhatikan urusan keluarga). Kegemaran orang inggris adalah humor dan anekdot, maka siapkanlah diri anda dengan cerita-cerita lucu. Humor tersebut memiliki maksud dan isi antara lain untuk menunjukkan:
In a meeting of ordinary English people use first names, formal meetings 1-3 times, so on can be relaxed and more talk about (as if more concerned with family affairs). English is the penchant of humor and anecdotes, so prepare yourself with funny stories. Humor has the intent and content, among others, to demonstrate:
Bantahan diri, menghilangkan ketegangan, mempercepat diskusi yang membosankan, kritik kepada atasan tanpa takut dipecat, ide liar sebagai bahan percobaan, menertawakan cara pandang terhadap manajemen yang tidak logis, terlalu luas atau terlalu serius.
Self denial, relieves tension, speed up the boring discussion, criticism to superiors without fear of being fired, wild ideas as experimental material, laugh at the perspective of management that is not logical, too broad or too serious.
Berkomunikasi dengan orang Australia?
Bergaul dengan orang australia merupakan hal yang luar biasa, karena di tempat ini tidak ada aturan resmi bagaimana tikungan atau belokan baku cara kita bertatakrama dan bersikap, kita bisa bertingkah sopan, santai, hangat atau keras sekalipun buat mereka tidak masalah, sepertinya slogan egalitarian, bahwa harkat dan derajat manusia adalah sama adalah semboyan hidup mereka, jadi tidak perlu basa-basi, sopan santun, perbedaan derajat golongan dan lainnya.
Communicating with people in Australia? Mingle with people Australia is a remarkable thing, because in this place there are no formal rules of how to bend or turn raw and polite the way we behave, we can act polite, relaxed, warm or even hard for them not a problem, slogan seems egalitarian, that the degree of human dignity and are equal is the motto of their lives, so do not need lip service, good manners, class and other differences in degree.
Orang australia senang mengkritik diri mereka sendiri sedangkan kritik orang lain jarang mereka dengarkan, ini akan menyulitkan pendatang baru yang ingin beradaptasi dengan mereka lebih dalam.
Australian people criticize themselves happy while they are rare criticism of others to listen to, it will be difficult for newcomers who want to adapt to them more deeply.
Maka dari itu jangan paksakan keinginan anda pada orang australia atau anda akan dipaksa untuk meninggalkan negara mereka. Mereka senang dipuji tapi jika pujian terus menerus diberikan maka bisa jadi mereka marah dan tidak menyukainya karena hal tersebut dianggap sesuatu penipuan atau usaha memperdayai dan mempermainkan.
Therefore do not force your wishes on the Australian people or you will be forced to leave their country. They like to be praised but if praise is given continuously then maybe they are angry and do not like it because it is considered something fraudulent or deceptive business and playing.
Ketika mulai tahun 1990an industri China mengejar industri Jepang, ternyata bangsa Jepang tidak terlalu terkejut karena tempaan sumber daya manusia (SDM)-nya sudah lebih dari dua abad dalam hitungan sejarah dan budayanya.
When the industry began in the 1990s China pursued the Japanese industry, Japanese nation was not too surprised because the forging of human resources (HR) was already more than two centuries in a matter of history and culture.
Jadi pacuan antara Jepang dengan China negara tetangganya bukan baru-baru ini saja. Bangsa Jepang sudah penuh tempaan oleh para pemimpin mereka dalam lingkungan alam Jepang yang tidak terlalu bersahabat.
So the race between Japan and neighboring China is not just recently. Japanese people are fully forged by their leaders in the natural environment of Japan that is not too friendly.
Kini pun kategori produk bermutu Jepang terhitung middle and higher end dibandingkan buatan China, Korea dan negara-negara tetangga lainnya, dan setiap kali membangun mutu yang lebih tinggi meskipun nilai/harganya jadi lebih mahal.
Now even Japan’s top quality products categories as of middle and higher end than the made in China, Korea and other neighboring countries, and every time the build quality is higher even though the value / price to be more expensive.
Perang Dunia pertama (PD I) dan kedua (PD II), kemudian menjelang Plaza Accord 1985, dan hasil pertemuan Kelompok Tujuh Negara (G-7), serta krisis 1990an membuahkan tekad sekaligus visi para pemimpin Jepang untuk menggugat diri maupun tidak terjebak kembali dalam kemunduran, tetapi terus mendayung maju.
First World War (WW I) and second (WW II), then before the Plaza Accord of 1985, and the meeting of Group of Seven countries (G-7), and the crisis of the 1990s led to the determination as well as vision to sue the Japanese leaders themselves and not stuck back in setbacks, but continue to paddle forward.
Sejarah modern industri Jepang berlangsung sejak Restorasi Meiji tahun 1867. Era ini mengakhiri periode panjang isolasi dari dunia luar sejalan dengan awal industrialisasi yang diciptakan masyarakat Barat. Bangsa Jepang bangun dari keterbelakangan sebelum era Meiji, melalui proses yang keras dalam kebijakan menanamkan jiwa disiplin dan sikap hidup tidak mudah menyerah pada hambatan ketertutupan bangsa sebagai kelemahan dalam interaksi dengan dunia luarnya.
Modern History of Japan’s industrial progress since the Meiji Restoration in 1867. This era ended a long period of isolation from the outside world in line with the beginning of industrialization that created Western society. Japanese people get out of retardation before the Meiji era, through the hard process of instilling mental discipline policies and attitudes not easily succumb to the closure of the barrier as a weakness in the interaction with the world outside.
Berkembangnya pemikiran pemasaran modern Jepang terjadi setelah PD II, dan pesat di tahun 1960an. Masa itu Pemerintah Jepang menciptakan berbagai kebijakan yang diarahkan pada pemulihan ekonomi dengan memberi berbagai insentif, mulai dari pemulihan industri yang hancur dengan fasilitas kredit lunak dari dunia perbankan, pajak dan mendorong bangsa Jepang untuk tidak apatis setelah kekalahan perang. Salah satu hasil dari kebijakan ekonominya adalah munculnya (revival) masyarakat konsumsi massal (mass consumption society).
The development of modern marketing thought Japan after World War II, and rapidly in the 1960s. At that time the Japanese government created numerous policies aimed at economic recovery by providing various incentives, ranging from industrial recovery which was destroyed by soft credit facilities from the banking, taxes and encouraging the Japanese people for not apathetic after losing the war. One of the results of its economic policy is the emergence (revival) society of mass consumption (mass consumption society).
Perusahaan Jepang memperoleh dan mendayagunakan dari dunia Barat sejumlah pengetahuan produk: teknologi produk dan pengetahuan pemasaran terutama pasca-PD II. Pada landasan ini, banyak perusahaan Jepang menambahkan program Kaizen (manajemen mutu terpadu) dan biaya yang memungkinkan mereka mencapai pangsa pasar yang sangat besar dalam bisnis internasional berbagai bidang alat elektronika rumah tangga, audio, televisi, video tape recorder, mesin fotokopi dan faksimili, serta tentunya industri otomotif dan sejumlah hal lainnya.
Japanese companies acquire and utilize knowledge of the Western world a number of products: product technology and marketing knowledge, especially post-World War II. On this basis, many Japanese companies add Kaizen program (quality management) and costs which allows them to reach a very large market share in international business different fields of household electrical appliance, audio, television, video tape recorders, copiers and facsimile, as well as of course the auto industry and a number of other things.
Inilah salah satu alasan mengapa banyak perusahaan Jepang dalam menargetkan pasaran global mengenalkan produk baru yang memiliki keaslian dan mutu yang tinggi (originality and excellence).
This is one reason why many Japanese companies in targeting the global market to introduce new products that have originality and high quality (Originality and excellence).
Pertumbuhan produktivitas berasal dari perubahan dan sukses didasarkan pada manajemen perubahan secara efektif (effective management of change). Perubahan teknologi yang demikian cepatnya, makin pentingnya peringkat lunak (software), globalisasi pasar, dan pergeseran nilai-nilai sosial akan mempengaruhi konsep manajemen dan produktivitas.
Productivity growth comes from change and success is based on the effective management of change (effective management of change). Such rapid changes in technology, the importance ratings (software), the globalization of markets, and shifts in social values would influence the concept of management and productivity.
Sejak tahun 1970an Jepang ditandai sebagai “pesaing global baru” (new global competitor) dengan berbagai merek dagang, antara lain Suntory Ltd, Toyota Motor, Matsushita Electric, Honda, Sony, Hitachi, Yamato, Fuji Photo, Mitsui, Mitsubishi dan dalam dunia konstruksi ada Obayashi Gumi, berkibar diawali di Asia Timur dan merembes ke Eropa dan Amerika. Dalam bisnis perbankan, Bank of Tokyo, Fuji Bank, dan berbagai merger dengan merek baru sejak 1980an.
From the 1970s Japan was marked as “new global competitor” (global new competitors) with a variety of trademarks, among others, Suntory Ltd., Toyota Motor, Matsushita Electric, Honda, Sony, Hitachi, Yamato, Fuji Photo, Mitsui, Mitsubishi and in the construction world There Obayashi Gumi, started flying in East Asia and seeping into Europe and America. In business banking, Bank of Tokyo, Fuji Bank, and various mergers with a new brand since 1980.
Posisi bersaing internasional yang kuat, dan banyak di antara mereka mengembangkan ekspor produk sesuai dengan tingkat teknologi yang mampu diserap oleh masyarakat yang dijadikan pangsa pasar Jepang. Kehebatan perusahaan Jepang sebagai pemasok yang unggul di pasaran dunia tidaklah instan, tapi melalui proses sebagai berikut:
Strong competitive position internationally, and many of them develop export products in accordance with the level of technology that can be absorbed by the society that made the Japanese market. The greatness of the Japanese company as a leading supplier in the world market is not instant, but through the process as follows:
1. Penelitian dan Pengembangan (Research and Development – R&D). Perusahaan Jepang awalnya memfokus produk dan atau bahan baku untuk industri berstandar mutu rendah sampai menengah (standard low or mid range items) dengan memasok teknologi dasarnya dari perusahaan menengah Amerika atau Eropa. Industri Jepang dengan keterampilan ber-R&D tidak berhenti sebagai “tukang las/soldir dan tukang jahit”. Awalnya, anggaran untuk R&D senilai 3 hingga 4 persen dari biaya total produksi.
1. Research and Development (Research and Development – R & D). The Japanese company initially focused products and or raw materials for industry-standard low to medium quality (standard low or mid range items) by supplying the basic technology from the U.S. or European mid size companies. Japanese industry with her skill R & D does not stop as “welder and tailor.” Initially, the budget for R & D worth 3 to 4 percent of the total cost of production.
2. Kehebatan perusahaan Jepang dengan sikap merendah (low profile) memperbaiki teknologi produk, mendorong kinerja (performance), dan secara gradual meningkatkan mutu (level of quality), mula-mula memasuki segmen pasar mutu rendah untuk berbagai produk tertentu melaju ke segmen mutu tinggi (high end quality). Industrialis Jepang tidak membatasi diri pada sektor otomotif, dan memasuki sektor elektronik, teknologi informasi optik, fotografi, tekstil dan produk terkait (related products).
2. The greatness of Japanese companies with condescending attitude (low profile), improving product technology, pushing the performance (performance), and gradually improve the quality (level of quality), first entered the low quality market segments for specific products drove to the high quality segment (high end quality). Japanese industrialists are not limiting themselves to the automotive sector, and entered the electronics sector, information technology, optics, photography, textiles and related products (related products).
Sikap juang (makato) manusia Jepang makin memantapkan proses tanpa menonjolkan diri, yakni disiplin dengan kerjasama tim lintas fungsional, menghargai waktu pengembangan keterampilan, partisipasi dan keterlibatan, moral dan etos kerja, komunikasi menengah ke atas dan ke bawah (middle up and down).
The attitude of fighting (makato) Japanese people increasingly established process without self-assertive, that discipline with cross-functional teamwork, respecting the development of skills, participation and involvement, morale and work ethic, communication medium up and down (the middle ups and downs).
Baik yang berada di tingkat pucuk pimpinan bisnis (Chief Executive Officer – CEO) hingga manajer menengah, maupun karyawan biasa, maka pola pikir bisnis Jepang adalah orientasi proses (process oriented) dalam mencapai tujjuan dalam waktu yang dijadwalkan (just-in-time).
Both are located at the business helm (Chief Executive Officer – CEO) to middle managers, as well as regular employees, the Japanese business mindset is the orientation process (process oriented) in achieving tujjuan within the scheduled time (just-in-time).
Gerak langkah industri Jepang mulai 1980an membuat banyak industri Eropa dan AS gulung tikar untuk kemudian putar haluan melakukan merelokasi ke China. Aliansi yang digarap industri Barat dan Amerika Serikat (AS) itu untuk mempertahankan eksistensi merek, dan membangun merek baru juga diamati oleh para peneliti perusahaan/industri Jepang.
Motion steps Japanese industry began the 1980s made many European and U.S. industry out of business to then turnaround to relocate to China. Alliance who worked on the Western industry and the United States (U.S.) is to maintain the existence of the brand, and build new brands were also observed by researchers at the company / industry of Japan.
Ditulis dalam Uncategorized